Membangun Generasi Qurani Menyongsong Masa Depan Gemilang
Memuat Waktu...
Menanamkan Nilai, Menjaga Generasi: LPQ dan MDT DIY Didorong Jadi Ruang Pendidikan Ramah Anak
Pilihan Utama

Menanamkan Nilai, Menjaga Generasi: LPQ dan MDT DIY Didorong Jadi Ruang Pendidikan Ramah Anak

20 August 2026

Pendataan dan Updating Data TKA-TPA Tahap Kedua Resmi Dibuka, Mari Pastikan Setiap Unit Terdata
Pilihan Utama

Pendataan dan Updating Data TKA-TPA Tahap Kedua Resmi Dibuka, Mari Pastikan Setiap Unit Terdata

10 August 2026

Semarakkan FASI XIII DIY, Badko TKA-TPA DIY Gelar Lomba Ekshibisi Seni Islami
Pilihan Utama

Semarakkan FASI XIII DIY, Badko TKA-TPA DIY Gelar Lomba Ekshibisi Seni Islami

10 August 2026

BADKO TKA-TPA DIY Mantapkan Sinergi Daerah demi Suksesnya FASI XIII
Pilihan Utama

BADKO TKA-TPA DIY Mantapkan Sinergi Daerah demi Suksesnya FASI XIII

01 August 2026

Sedekah Subuh Jogja: Ketika Fajar Menjadi Awal Harapan Ribuan Santri
Pilihan Utama

Sedekah Subuh Jogja: Ketika Fajar Menjadi Awal Harapan Ribuan Santri

30 July 2026

Pendaftaran Terbuka

Mari Bergabung Bersama Badko TKA-TPA Daerah Istimewa Yogyakarta

Bersama membina generasi Qur'ani yang cerdas, ceria, dan berakhlak mulia di seluruh wilayah DIY. Bergabunglah bersama ribuan unit TKA-TPA & ustadz/ustadzah lainnya!

Pembinaan Resmi Kurikulum Standar Badko Jejaring Se-DIY
Daftar Sekarang Proses Cepat & Mudah
Info Santri
Pendaftaran dan Updating Data tahap kedua sudah dibuka..., 53 Hari menuju FASI XIII Tingkat Provinsi Yogyakarta

Kabar Santri Terbaru

Semua Kabar
Dari Kirab Menuju Cahaya Al-Qur’an: Wisuda XVIII TPAM Sunan Geseng Jolosutro, Menyemai Generasi Unggul dan Berakhlak Mulia 75
20 September 2026

Dari Kirab Menuju Cahaya Al-Qur’an: Wisuda XVIII TPAM Sunan Geseng Jolosutro, Menyemai Generasi Unggul dan Berakhlak Mulia

Bantul — Lapangan Jolosutro, Srimulyo, Piyungan, Bantul, D.I. Yogyakarta, pada Sabtu, 19 September 2026, berubah menjadi ruang penuh haru dan kebahagiaan. Bukan sekadar lapangan tempat berkumpul, tetapi menjadi saksi sebuah perjalanan panjang anak-anak dalam mengenal, membaca, mencintai, dan belajar mengamalkan Al-Qur’an. Di tempat itulah Taman Pendidikan Al-Qur’an Muhammadiyah (TPAM) Sunan Geseng Jolosutro menggelar Wisuda Santri XVIII Tahun 2026. Mengusung tema “Mewujudkan Generasi Qur’ani yang Unggul, Berkemajuan dan Berakhlak Mulia”, kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi para santri, orang tua, ustaz dan ustazah, sekaligus seluruh keluarga besar TPAM Sunan Geseng Jolosutro. Hari itu, rangkaian kegiatan diawali dengan kirab santri. Langkah-langkah kecil para santri menjadi gambaran perjalanan panjang yang telah mereka tempuh. Dengan wajah ceria, mereka berjalan membawa kebanggaan sebagai generasi yang sedang belajar menapaki jalan Al-Qur’an. Kirab tersebut seolah menjadi simbol bahwa perjalanan seorang santri tidak berhenti pada satu halaman atau satu juz yang telah dibaca. Ia adalah perjalanan seumur hidup—dari mengenal huruf, mengeja ayat, menghafalnya, hingga berusaha menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam kehidupan. Setelah rangkaian kirab, kegiatan berlanjut menuju acara puncak, yakni prosesi Wisuda Santri XVIII, yang kemudian dilanjutkan dengan pengajian akbar yang disampaikan oleh Bapak H. Fachrudin, S.Ag. 112 Santri, Sebuah Perjalanan dan Harapan Dalam sambutan Direktur TPAM Sunan Geseng Jolosutro, Ustadz Sudaryanto, S.Pd.I., disampaikan bahwa pada wisuda ke-18 ini terdapat 112 santri yang diwisuda dari sejumlah cabang TPAM Sunan Geseng Jolosutro. Para santri tersebut berasal dari berbagai unit, yakni Unit Jolosutro sebanyak 63 santri, Cabang Jombokan 4 santri, Cabang Pandeyan 7 santri, Cabang Kaligatuk 21 santri, Cabang Ngelosari 8 santri, dan Cabang Pangol 7 santri. Jumlah tersebut bukan sekadar angka. Di balik setiap nama yang disebut dalam prosesi wisuda, ada perjuangan panjang. Ada waktu yang diluangkan orang tua untuk mengantar dan menjemput. Ada kesabaran ustaz dan ustazah dalam mendampingi. Ada pula doa-doa yang mungkin tak pernah terdengar, tetapi terus dipanjatkan agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang baik. Dalam sambutannya, Sudaryanto menyampaikan harapan agar para santri yang diwisuda kelak menjadi anak-anak yang saleh dan salehah, berbakti kepada orang tua, berguna bagi masyarakat, serta pada kemudian hari mampu menjadi pemimpin negeri dengan penuh amanah. Harapan itu terasa begitu sederhana, tetapi sekaligus dalam. Sebab pendidikan Al-Qur’an memang tidak semata-mata tentang seberapa banyak ayat yang mampu dibaca atau dihafalkan. Lebih dari itu, ada cita-cita agar nilai-nilai Al-Qur’an tumbuh menjadi akhlak yang melekat dalam diri seorang anak. 36 Tahun Menanam, 36 Tahun Menyaksikan Tumbuhnya Generasi Wisuda XVIII ini juga menjadi bagian dari perjalanan panjang TPAM Sunan Geseng Jolosutro yang telah genap berusia 36 tahun pada 20 Agustus 2026. Tiga puluh enam tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Ada banyak generasi yang telah datang dan belajar di tempat ini. Ada anak-anak yang dahulu duduk sebagai santri, kemudian tumbuh dewasa dan melanjutkan pengabdiannya di tengah masyarakat. Dalam sambutannya, Direktur TPAM Sunan Geseng Jolosutro menyampaikan bahwa selama perjalanan tersebut, TPAM telah mencetak generasi-generasi yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara. Sebagian lulusan TPAM bahkan telah mengabdi sebagai abdi negara di berbagai bidang. Karena itu, momentum wisuda bukan hanya tentang melepas para santri dari satu jenjang pembelajaran, tetapi juga tentang menitipkan harapan kepada generasi berikutnya. Menanam hari ini, berharap tumbuh esok hari. Membaca Al-Qur’an hari ini, berharap kelak lahir manusia-manusia yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya. Sinergi untuk Pendidikan Al-Qur’an Wisuda Santri XVIII TPAM Sunan Geseng Jolosutro turut dihadiri sejumlah tokoh dan unsur masyarakat. Hadir dari Badan Koordinasi TKA-TPA Wilayah DIY, Bapak Endro Suwarno, S.E. dan Bapak Didik Setiawan. Turut hadir pula jajaran Forkompimkap Piyungan, Polsek Piyungan, Koramil Piyungan, PCM serta berbagai unsur dan jajaran terkait yang memberikan dukungan terhadap terselenggaranya kegiatan tersebut. Kehadiran berbagai unsur ini menunjukkan bahwa pendidikan Al-Qur’an bukan hanya menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan, tetapi merupakan bagian dari ikhtiar bersama masyarakat dalam menyiapkan generasi masa depan. Sebab anak-anak yang hari ini duduk sebagai santri, kelak akan menjadi bagian dari wajah masyarakat. Mereka akan menjadi guru, pemimpin, orang tua, pengusaha, abdi negara, ulama, dan berbagai profesi lainnya. Apa yang ditanamkan kepada mereka hari ini akan ikut menentukan seperti apa kehidupan masyarakat pada masa mendatang. Terima Kasih untuk Semua yang Telah Membersamai Di penghujung sambutannya, Sudaryanto juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan bantuan, baik berupa materi, pemikiran maupun tenaga, sehingga rangkaian wisuda dapat berjalan dengan lancar. Doa pun dipanjatkan agar segala bentuk bantuan dan pengabdian tersebut mendapatkan imbalan yang sepadan dari Allah SWT. “Mudah-mudahan santri yang saat ini diwisuda menjadi anak-anak yang sholeh dan sholihah, berbakti kepada orang tua dan berguna bagi masyarakat serta di kemudian hari menjadi pemimpin negeri ini dengan penuh amanah.” Kalimat itu menjadi salah satu pesan penting yang mengiringi langkah para santri meninggalkan panggung wisuda. Karena sejatinya, wisuda bukanlah akhir dari perjalanan. Ia adalah pintu menuju perjalanan yang lebih panjang. Hari ini mereka mengenakan pakaian terbaik, menerima penghargaan, dan berdiri di hadapan orang tua dengan senyum yang mungkin bercampur haru. Namun setelah panggung dibongkar dan lapangan kembali lengang, perjalanan sesungguhnya justru dimulai. Al-Qur’an yang telah dibaca harus terus dibaca. Ayat yang telah dihafalkan harus terus dijaga. Ilmu yang telah dipelajari harus diwujudkan dalam akhlak dan amal. Dari Jolosutro, dari sebuah lembaga yang telah menapaki perjalanan 36 tahun, kembali lahir harapan-harapan baru. Sebanyak santri yang diwisuda hari itu membawa satu pesan yang sama: semoga mereka tumbuh menjadi generasi Qur’ani—unggul dalam ilmu, berkemajuan dalam langkah, dan mulia dalam akhlak. Semoga langkah kecil dalam kirab itu menjadi langkah panjang menuju masa depan. Dan semoga setiap ayat Al-Qur’an yang pernah mereka baca menjadi cahaya yang terus menyala, menerangi jalan hidup mereka, keluarga, masyarakat, hingga negeri tercinta. untuk menyaksikan jalannya kegiatan Wisuda Santri XVIII TPAM Sunan Geseng Jolosutro, silahkan klik Wisuda XVIII TPAM Sunan Geseng Jolosutronth 2026

Baca Serunya!
Menjaga Nyala Silaturahmi, Menapaki Jalan Takwa Bersama Aktivis LDPQ-BADKO 104
16 September 2026

Menjaga Nyala Silaturahmi, Menapaki Jalan Takwa Bersama Aktivis LDPQ-BADKO

Banguntapan, 16 September 2026 — Ada malam-malam yang tidak sekadar berlalu. Ia menjadi ruang untuk kembali duduk bersama, menyambung silaturahmi, menenangkan hati, sekaligus mengingatkan diri tentang ke mana sebenarnya langkah kehidupan hendak diarahkan. Suasana itulah yang akan mewarnai Silaturahim dan Majlis Ta'lim Aktivis Malam Kamis Pahing yang digelar pada Rabu malam, 16 September 2026, pukul 18.00–21.00 WIB, bertempat di rumah Bapak H. M. Ridho Hisyam, Salakan, Banguntapan. Kegiatan ini menjadi momentum berkumpulnya rekan-rekan aktivis LDPQ-BADKO dalam suasana kekeluargaan. Bukan sekadar bertemu dan berbincang, tetapi juga menghidupkan kembali semangat untuk berjalan bersama dalam kebaikan. Dalam undangan kegiatan tersebut, panitia mengharapkan kehadiran rekan-rekan aktivis untuk bersama-sama mengikuti rangkaian silaturahmi dan majelis taklim. Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan, sebab dalam perjuangan di jalan dakwah, langkah yang berat akan terasa lebih ringan ketika dipikul bersama. Menapaki Jalan Takwa Majelis taklim malam itu membawa tema besar tentang “Jalan Menuju Takwa”. Materi pengajian menjelaskan bahwa takwa bukan sekadar sebuah kata yang indah diucapkan, melainkan sikap hidup yang diwujudkan dalam keseharian. Dalam materi tersebut, takwa dijelaskan berdasarkan Taisirul Khollaq karya Syekh Hafizh Hasan al-Mas'udi sebagai upaya menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik dalam keadaan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Untuk menuju takwa, ada dua proses penting yang perlu berjalan beriringan, yaitu at-takhalli dan at-tahalli. At-takhalli berarti membersihkan diri dari akhlak tercela, sedangkan at-tahalli berarti menghiasi diri dengan akhlak terpuji. Pesannya sederhana, tetapi dalam: seseorang tidak cukup hanya meninggalkan keburukan. Hati yang telah dibersihkan juga perlu diisi dengan kebaikan. Sebab, seperti sebuah wadah, hati akan menjadi tempat tumbuhnya sesuatu sesuai dengan apa yang kita masukkan ke dalamnya. Materi pengajian juga mengingatkan bahwa takwa merupakan jalan menuju petunjuk sekaligus pegangan yang kuat bagi keselamatan manusia. Takwa menjadi bekal yang tidak hanya dibutuhkan untuk menjalani kehidupan di dunia, tetapi juga untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Tiga Hal yang Membangkitkan Ketakwaan Ada tiga hal yang dapat membangkitkan ketakwaan dalam diri seseorang. Pertama, menyadari kehinaan diri di hadapan Allah. Manusia adalah makhluk yang lemah, sementara Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa. Kesadaran ini semestinya melahirkan kerendahan hati dan membuat manusia tidak mudah merasa besar di hadapan Sang Pencipta. Kedua, mengingat berbagai kebaikan dan nikmat Allah. Ketika seseorang menyadari bahwa hidupnya dipenuhi nikmat dan kebaikan Allah, muncul rasa malu untuk membalas nikmat tersebut dengan kemaksiatan. Ketiga, mengingat kematian. Ajal dapat datang kapan saja. Kesadaran bahwa kehidupan memiliki batas akan mendorong seseorang untuk segera bertobat dan memperbanyak amal saleh sebagai bekal perjalanan berikutnya. Takwa pun ditempatkan sebagai salah satu ukuran kemuliaan manusia. Bukan harta, kedudukan, atau penampilan yang menjadi ukuran utama, melainkan ketakwaan kepada Allah. Membersihkan Hati, Menghiasinya dengan Kebaikan Dalam pembahasan at-takhalli, materi pengajian mengingatkan sejumlah penyakit hati dan akhlak tercela yang perlu dibersihkan. Di antaranya dendam, dengki, ghibah, adu domba, sombong, merasa tertipu oleh kelebihan diri sendiri, serta dusta. Sebaliknya, setelah hati dibersihkan, ia perlu dihiasi dengan akhlak terpuji atau at-tahalli. Beberapa akhlak yang dibahas antara lain jujur, amanah, ikhlas, santun dan mampu menahan amarah, menjaga kebersihan, menjaga kehormatan diri, dermawan, tawadhu, memiliki harga diri, serta berlaku adil. Menariknya, pesan tentang ikhlas menjadi salah satu bagian yang begitu dekat dengan kehidupan para aktivis. Amal yang dilakukan bukan semata-mata untuk mendapatkan pujian manusia, tetapi karena mengharap rida Allah. Dengan begitu, pujian tidak membuat seseorang terbang dan cacian tidak membuatnya berhenti berbuat baik. Pada akhirnya, jalan menuju takwa memang bukan jalan yang selesai dalam satu malam. Ia adalah perjalanan panjang—langkah demi langkah, hari demi hari. Kadang seseorang harus membersihkan hati, kemudian belajar mengisinya kembali. Jatuh, bangkit, memperbaiki diri, lalu berjalan lagi. Dan mungkin, di situlah makna silaturahmi malam Kamis Pahing ini menemukan ruhnya. Bertemu untuk saling menguatkan. Mengaji untuk saling mengingatkan. Dan berjalan bersama agar cahaya kebaikan tidak padam di tengah perjalanan. Sebagaimana sebuah pelita, cahaya yang dijaga bersama akan lebih lama menerangi jalan. Malam itu, di Salakan, Banguntapan, para aktivis LDPQ-BADKO kembali dipertemukan dalam satu ikhtiar: merawat persaudaraan, menumbuhkan akhlak, dan bersama-sama menapaki jalan menuju takwa. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh H. Evan Riyanto Arifin, S.Pd., H. Suprapto, MA., dan H. M. Ridlo Hisyam, SH. Semoga pertemuan yang sederhana ini menjadi pintu bagi lahirnya langkah-langkah besar dalam kebaikan, serta menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju rida Allah Subhaanahu wa ta'ala.

Baca Serunya!
Menjaga Cahaya Al-Qur’an di Panjatan: Akreditasi TPA Menjadi Ikhtiar Menumbuhkan Pendidikan yang Lebih Baik 171
12 September 2026

Menjaga Cahaya Al-Qur’an di Panjatan: Akreditasi TPA Menjadi Ikhtiar Menumbuhkan Pendidikan yang Lebih Baik

Kulon Progo, 12 September 2026 — Pagi ini, di Rayon Panjatan, Kulon Progo, ikhtiar untuk merawat pendidikan Al-Qur’an kembali menemukan jalannya. Bukan sekadar tentang lembar penilaian, kelengkapan administrasi, atau sebuah predikat akreditasi. Lebih dari itu, akreditasi menjadi ruang untuk berhenti sejenak, melihat apa yang telah dilakukan, lalu melangkah kembali dengan semangat yang lebih baik. Sabtu, 12 September 2026, dilaksanakan kegiatan Supervisi dan Akreditasi TKA-TPA Rayon Panjatan, Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas TKA-TPA sebagaimana diajukan oleh Badko TKA-TPA Kabupaten Kulon Progo kepada Badko TKA-TPA Provinsi DIY melalui Biro Supervisi dan Akreditasi. Titik kumpul kegiatan berada di TPA Nurul Hadi, Pedukuhan II Panjatan, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Sebanyak lima unit TPA tercatat sebagai peserta akreditasi, yaitu TPA Nurul Hadi -Panjatan II, TPA Nurul Hasan -Ngentak lor Garongan, TPA Baiturrahman -Depok II, Depok, TPA Baiturrohim -Kepuh Kidul, Krembangan dan TPA Thoriquljannah -Cerme VII, Cerme. Di balik kegiatan tersebut, tersimpan harapan sederhana namun sangat berarti: bagaimana TPA di Panjatan tidak hanya terus berjalan, tetapi juga terus bertumbuh. Ketua Badko Rayon Panjatan, Bapak Sularso, S.Pd., menyampaikan harapannya agar pelaksanaan akreditasi dapat menjadi jalan bagi unit-unit TPA di wilayah Panjatan untuk menjadi lebih baik lagi. Harapan tersebut terasa penting, sebab pendidikan Al-Qur’an sejatinya bukan pekerjaan yang selesai dalam satu hari. Ia adalah perjalanan panjang yang dibangun dari kesabaran para ustadz dan ustazdah, dukungan orang tua, semangat para pengelola, serta langkah-langkah kecil anak-anak yang setiap hari belajar mengenal huruf demi huruf Al-Qur’an. Akreditasi, dalam konteks ini, bukanlah sesuatu yang semestinya membuat pengelola TPA merasa gentar. Justru sebaliknya, ia dapat menjadi cermin untuk berbenah. Melalui supervisi dan akreditasi, sebuah lembaga memiliki kesempatan untuk melihat kembali berbagai hal yang selama ini telah dikerjakan. Apa yang sudah baik dapat dipertahankan dan ditingkatkan. Apa yang masih kurang dapat diperbaiki. Dengan demikian, akreditasi bukan akhir dari perjalanan, melainkan salah satu pintu menuju peningkatan mutu pendidikan Al-Qur’an. Dalam kegiatan tersebut turut hadir Bapak Setia Irawan, A.Md., selaku Jawatan Sosial. Kehadiran unsur pemerintahan dan berbagai pihak yang memberikan perhatian terhadap kegiatan TKA-TPA menjadi tanda bahwa pendidikan Al-Qur’an bukan hanya tanggung jawab satu atau dua orang. Ia adalah amanah bersama. Bukan Sekadar Menilai, tetapi Menumbuhkan Hasil dari agenda akreditasi ini setidaknya memberikan sebuah pijakan penting bagi TPA di Rayon Panjatan: adanya proses evaluasi dan pembinaan untuk mendorong peningkatan kualitas lembaga secara berkelanjutan. Lima unit TPA yang mengikuti kegiatan mendapatkan ruang untuk melihat kesiapan dan tata kelola lembaganya melalui proses supervisi dan akreditasi. Namun, berdasarkan dokumen permohonan yang menjadi dasar kegiatan, dokumen tersebut tidak memuat hasil akhir atau predikat akreditasi masing-masing TPA. Karena itu, hasil kegiatan lebih tepat dimaknai sebagai bagian dari proses pembinaan dan peningkatan mutu, bukan sebagai pernyataan bahwa seluruh unit telah memperoleh predikat tertentu. Di sinilah makna akreditasi menjadi lebih luas. Sebab, sebuah TPA yang baik bukan hanya tempat anak-anak belajar membaca Al-Qur’an. Ia adalah tempat di mana hati-hati kecil dikenalkan kepada ayat-ayat Allah. Tempat di mana seorang anak belajar mengeja huruf, menghafal doa, mengenal akhlak, dan perlahan memahami bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi pedoman kehidupan. Maka, ketika administrasi diperbaiki, pembelajaran ditata, pengelolaan dikuatkan, dan para pengajar terus meningkatkan kapasitasnya, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya sebuah lembaga. Yang sedang dibangun adalah masa depan generasi Qur’ani. Menyalakan Cahaya dari Panjatan Semoga akreditasi TPA Rayon Panjatan tidak berhenti sebagai agenda administratif yang selesai setelah satu hari kegiatan. Semoga ia menjadi awal dari langkah-langkah baru: pembelajaran yang semakin baik, pengelolaan yang semakin tertib, para ustaz dan ustazah yang semakin bersemangat, serta anak-anak yang semakin dekat dan mencintai Al-Qur’an. Semoga TPA-TPA di Panjatan terus menjadi rumah yang hangat bagi generasi kecil pencinta Al-Qur’an. Dan semoga dari ruang-ruang sederhana tempat anak-anak belajar mengaji itu, kelak lahir generasi yang bukan hanya pandai membaca Al-Qur’an, tetapi juga mampu membaca kehidupan dengan cahaya Al-Qur’an. Ya Allah, berkahilah setiap langkah para pengelola, ustaz, ustazah, orang tua, dan seluruh pihak yang telah menjaga pendidikan Al-Qur’an di Panjatan. Kuatkan mereka dalam mengabdi, mudahkan setiap ikhtiar mereka, dan jadikan setiap huruf Al-Qur’an yang dipelajari anak-anak sebagai amal jariyah yang terus mengalir. Sebab barangkali, sebuah perubahan besar memang selalu dimulai dari sesuatu yang tampak kecil: seorang anak, sebuah mushaf, seorang guru, dan sebuah ruang sederhana yang di dalamnya ayat-ayat Allah terus dilantunkan.

Baca Serunya!
Menyibak Rahasia di Balik TPA Al Amin: Ketika Berau Belajar tentang Sebuah Rumah Qur’ani yang Tumbuh dengan Profesionalisme 388
09 September 2026

Menyibak Rahasia di Balik TPA Al Amin: Ketika Berau Belajar tentang Sebuah Rumah Qur’ani yang Tumbuh dengan Profesionalisme

BANTUL — Rabu sore, 9 September 2026, matahari perlahan menurunkan cahaya ke ufuk Bantul. Di Kertopaten, Wirokerten, Banguntapan, sebuah rumah pendidikan Al-Qur’an menerima tamu dari jauh. Bukan sekadar kunjungan biasa. Ada niat untuk belajar, ada tekad untuk membawa pulang pengalaman, dan ada harapan agar sebuah model pengelolaan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) yang telah berjalan secara profesional dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan TPA di Kabupaten Berau. TPA Al Amin Kertopaten menjadi tujuan rombongan DPD Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Berau dalam kegiatan study banding tersebut. Kunjungan yang direncanakan pukul 15.00 WIB hingga selesai itu memang sejak awal dimaksudkan sebagai ruang untuk bertukar pengalaman. Dalam surat permohonan resmi DPD BKPRMI Kabupaten Berau, disebutkan bahwa kunjungan ini bertujuan meningkatkan wawasan, pengetahuan, dan kualitas pengelolaan TPA sekaligus menggali inspirasi mengenai sistem pengelolaan, metode pembelajaran Al-Qur’an, pembinaan santri, pengembangan kompetensi ustaz/ustazah, administrasi kelembagaan, serta program-program unggulan. Dan sore itu, tujuan tersebut menemukan tempatnya. Dari Berau untuk Belajar, dari Al Amin untuk Menginspirasi Hadir dari Kabupaten Berau, Kabag Kesra Kabupaten Berau, Bapak Toto Marjito beserta staf, serta Sekjen BKPRMI Kabupaten Berau, Bapak Eko. Mereka datang dengan satu tujuan sederhana namun bermakna: mencari model TPA yang dianggap terbaik dan telah dikelola secara profesional untuk kemudian dipelajari dan, bila memungkinkan, diterapkan di Kabupaten Berau. Di sisi lain, TPA Al Amin menyambut dengan tangan terbuka. Hadir dalam penyambutan tersebut Ketua TPA Al Amin, Muchlis Umaidi, Sekretaris Devi Istriyani dan Anisa, Bendahara Diantar K, Seksi Kurikulum Iwan Rustiawan, Seksi Sarana dan Prasarana Zainal Arifin, serta para ustaz dan ustazah. Tidak ada sekat antara tamu dan tuan rumah. Yang hadir bukan sekadar pejabat, pengurus, dan pendidik, tetapi orang-orang yang dipertemukan oleh kecintaan yang sama: bagaimana pendidikan Al-Qur’an dapat dikelola dengan sebaik-baiknya demi tumbuhnya generasi Islam yang berkualitas. Suasana pun berlangsung hangat, kekeluargaan, komunikatif, dan menyenangkan. Percakapan mengalir. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan. Pengalaman dibagikan. Hal-hal kecil yang selama ini mungkin dianggap biasa di TPA Al Amin justru menjadi sesuatu yang menarik perhatian tamu dari Berau. “Luar Biasa…” — Ketakjuban yang Tumbuh dari Sebuah Sistem Salah satu hal yang membuat rombongan Kabupaten Berau kagum adalah kurikulum yang diterapkan di TPA Al Amin. Bagi mereka, kurikulum bukan sekadar susunan materi pembelajaran. Ia menjadi napas yang menghidupkan seluruh proses pendidikan—menentukan arah, membangun kebiasaan, dan memastikan setiap santri mendapatkan proses pembinaan yang terarah. Namun, kekaguman tidak berhenti di sana. Sistem pembagian tugas di TPA Al Amin menjadi salah satu bagian yang paling mencuri perhatian. Di tengah dunia pendidikan yang sering kali membuat seorang pengelola harus mengenakan banyak “topi” sekaligus, Al Amin justru membangun pembagian kerja yang lebih terstruktur. Ada dua orang yang khusus menangani administrasi, dua orang bagian kebersihan, satu orang menangani urusan rumah tangga, satu orang bagian sarana dan prasarana, serta 38 ustaz/ustazah yang menjadi garda terdepan dalam mendampingi santri. Mendengar dan melihat sistem tersebut, kekaguman pun menyeruak. “Luar biasa.” Dua kata sederhana, tetapi rasanya cukup untuk menggambarkan betapa besarnya kesan yang dibawa pulang dari Kertopaten. Sebab di balik banyaknya nama dan pembagian tugas itu, ada sebuah filosofi penting: bahwa pendidikan yang baik tidak hanya membutuhkan orang-orang yang baik, tetapi juga membutuhkan sistem yang baik. Ketika Insentif Menjadi Bentuk Penghargaan Perbincangan juga menyentuh tentang kesejahteraan para ustaz dan ustazah. Di Kabupaten Berau, para ustaz/ustazah mendapatkan insentif sebesar Rp1.250.000 setiap bulan. Sementara dalam pengelolaan di Berau, terdapat pula ketentuan melalui Peraturan Bupati (Perbup) yang mengaitkan jumlah santri dengan besaran anggaran atau gaji. Sebagai gambaran, 40 santri mendapatkan alokasi Rp6 juta. Pembahasan semacam ini menjadi penting, sebab keberlangsungan pendidikan Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang gedung, kurikulum, dan jumlah santri. Di balik setiap huruf hijaiyah yang diajarkan, ada seorang ustaz atau ustazah yang meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan hati. Maka ketika kesejahteraan mereka mulai mendapatkan perhatian, sesungguhnya yang sedang dirawat bukan hanya seorang pendidik. Yang sedang dirawat adalah masa depan generasi. Al Amin, Sebuah Nama yang Menjadi Cerita Ada tempat-tempat yang besar karena bangunannya. Ada tempat-tempat yang dikenang karena kemegahannya. Namun ada pula tempat yang menjadi besar karena nilai yang hidup di dalamnya. TPA Al Amin Kertopaten adalah salah satu ruang yang perlahan menulis ceritanya sendiri. Di tempat ini, pendidikan Al-Qur’an tidak sekadar berlangsung dari satu halaman ke halaman berikutnya. Ia tumbuh bersama sistem, kebersamaan, kedisiplinan, pembagian tugas, dan ketulusan orang-orang yang berada di dalamnya. Kertopaten mungkin hanya sebuah titik kecil di peta Bantul. Tetapi sore itu, dari titik kecil tersebut, sebuah inspirasi sedang berjalan jauh—menyeberangi jarak hingga Kabupaten Berau. Al Amin seperti sebuah lentera yang tidak bertanya sejauh apa gelap berada. Ia hanya memilih untuk menyala. Dan ketika cahaya itu dilihat oleh mereka yang datang dari jauh, cahaya tersebut tidak menjadi berkurang. Justru semakin banyak yang ingin menyalakannya. Dari Kertopaten Menuju Berau Kunjungan ini pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang dimiliki TPA Al Amin dan apa yang belum dimiliki TPA di Kabupaten Berau. Lebih dari itu, pertemuan ini adalah tentang saling belajar. Berau datang membawa pengalaman dan semangatnya sendiri. Al Amin menerima dengan pengalaman yang telah dibangun bertahun-tahun. Dari perjumpaan itu lahir sebuah harapan: semoga praktik-praktik baik yang ditemukan di TPA Al Amin dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan sistem TPA di Kabupaten Berau. Semoga perjalanan rombongan dari Berau tidak berhenti ketika mereka meninggalkan Kertopaten. Semoga apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan sore itu berubah menjadi gagasan. Gagasan berubah menjadi program. Program berubah menjadi sistem. Dan sistem itu kelak tumbuh menjadi manfaat bagi ribuan santri di Kabupaten Berau. Menanam Hari Ini, Memanen Generasi Esok Hari Untuk TPA Al Amin Kertopaten, semoga perjalanan panjang yang telah dibangun tidak berhenti pada pencapaian hari ini. Semoga Al Amin terus menjadi rumah yang nyaman bagi anak-anak untuk mengenal Al-Qur’an, tempat para ustaz dan ustazah bertumbuh, serta ruang yang terus melahirkan inovasi dalam pendidikan Islam. Semoga profesionalisme yang telah dibangun tetap berjalan seiring dengan kehangatan dan kekeluargaan. Sebab pendidikan Al-Qur’an membutuhkan keduanya: sistem yang kuat dan hati yang hangat. Dan untuk Kabupaten Berau, semoga kunjungan ini menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang. Semoga model-model baik yang ditemukan dapat disesuaikan dengan karakter, kebutuhan, dan potensi masyarakat Berau. Semoga semakin banyak TPA yang mampu tumbuh secara profesional, semakin baik kesejahteraan para ustaz dan ustazah, serta semakin kuat pembinaan generasi muda Islam. Karena pada akhirnya, setiap TPA bukan hanya sedang mengajarkan anak membaca Al-Qur’an. Mereka sedang menanam sesuatu yang mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian. Menanam ayat hari ini, untuk memanen akhlak di masa depan. Dan sore di Kertopaten itu menjadi saksi bahwa sebuah TPA kecil dapat memiliki cerita yang jauh lebih besar daripada batas-batas wilayahnya. Dari Al Amin Kertopaten, Wirokerten, Banguntapan, Bantul, sebuah inspirasi berangkat. Menuju Berau. Membawa satu pesan sederhana: Bahwa ketika pendidikan Al-Qur’an dikelola dengan ilmu, profesionalisme, kebersamaan, dan keikhlasan, sebuah TPA tidak lagi sekadar menjadi tempat belajar. Ia dapat menjelma menjadi rumah yang menyalakan masa depan.

Baca Serunya!

Galeri Foto Ceria

Pengukuhan Pengurus BADKO TKA TPA Wilayah DIY
FESTIVAL ANAK SHOLEH INDONESIA XII 2024
FESTIVAL ANAK SHOLEH INDONESIA XII 2024
FESTIVAL ANAK SHOLEH INDONESIA XII 2024

Video Keseruan Kita

Thumbnail Video
Thumbnail Video
Thumbnail Video
Thumbnail Video

Tanya Jawab Ceria (FAQ)

Informasi umum & jawaban pertanyaan seputar Badko TKA-TPA DIY